Mungkin suatu hari sebagian orang akan menyaksikan sebuah kecelakaan. Walaupun sebagian besar kecelakaan yang terjadi, mungkin masih dalam skala minor, tetapi tidak dapat dihindari bahwa, setiap hari ada kecelakaan besar yang mengambil nyawa seseorang.
Bila kejadian tersebut, terjadi di depan mata sebagian orang,
langsung hubungi pihak berwajib, agar korban
dapat langsung diselamatkan, jangan menunggu orang lain untuk
melakukannya. Ceritakan dengan jelas kronologis dan letak
dari kecelakaan.
Sebelum sebgaian orang memutuskan
untuk mendekat ke titik kecelakaan, pastikan kendaraan
sudah ditepikan di tempat yang tidak menggangu pengendara lainnya
dan jangan lupa untuk menyalakan lampu darurat. Tetapi
apabila kecelakaan itu berada di titik yang berbahaya, misalnya di tepi
jurang, lebih baik premier people menunggu samapai pihak berwajib
datang.
Apabila premier people berhasil mendekati
korban kecelakaan lebih dulu dibanding pihak berwajib jangan berusaha
memindahkan korban, karena bisa-bisa cedera atau luka yang
dideritanya bertambah parah akibat gerakan yang
terjadi pada saat pemindahan. Namun bila nyawa korban dalam keadaan yang
terancam (misalnya mobil dilahap api) , segera pindahkan
korban dengan menarik baju atau pakaian korban agar potensi
cedera untuk bertambah parah tidak besar.
Bila diperlukan, berikan bantuan pernapasan agar
korban cepat tersadar. Bila sebagian orang tidak tahu cara melakukannya,
mintalah bantuan pihak berwajib lewat telepon genggam.
Korban kecelakaan bisa mengalami pendarahaan yang cukup parah,
bila sebagian orang yakin bisa membantu, berikan pertolongan pertama
dengan menempelkan handuk atau bahan apapun yang bisa menyerap
sekaligus membantu menghentikan pendarahan tersebut. Terus tekan
handuk tersebut, untuk memperlambat pendarahan.
Korban bisa saja dalam keadaan shock dan shock dapat membunuhnya.
Berikan selimut atau apapun yang bisa mengembalikan suhu tubuhnya.
Tenangkan korban dengan mengajaknya bicara dan meyakinkan bahwa
semua akan baik-baik saja.
Senin, 03 Maret 2014
Minggu, 02 Maret 2014
Masalah Kemacetan Di Jakarta
Sejak dulu, kota ini memang memiliki lalu lintas yang padat. Hal ini
trus meningkat dan sepengetahuan saya tidak berkurang. Kemacetan
sekaligus panas yang tak tertahankan membuat warga Jakarta semakin
tegang dan lelah. Tak heran, pengendara sering membunyikan klakson dan
mau menang sendiri.
Busway Penyebabnya?
Sejak Oktober 2007, beberapa lajur khusus bus Transjakarta, atau yang biasa kita kenal busway, dibangun. Seiring pembangunan itu, kemacetan bukannya teratasi malah bertambah parah. Oleh karena itu, orang sering mengatakan bahwa pembangunan busway itu lah penyebab dari kemacetan.
Dari data yang saya ambil dari Dinas Perhubungan DKI Jakarta, setiap tahun jumlah kendaraan di Jakarta bertambah 9 %. Setiap harinya ada sekitar 1.235 motor dan 835 mobil baru yang masuk ke jalan. Mungkin saja angka itu bisa berubah lagi. Namun, jumlah penambahan kendaraan itu tidak seimbang dengan jumlah tambahan jalan raya yang hanya 0,1& setiap tahunnya. Tentu saja jalan yang sudah ada tidak dapat mengampung kendaraan yang begitu banyaknya. Itulah penyebab utama kenacetan yang terjadi di Jakarta.
Kemacetan bertambah karena pembangunan busway, penggalian kabel, pohon tumbang dan jalan yang berlubang. Jalan pun menjadi lebih sempit dan tentu membuat pengendara menjadi tidak nyaman saat berkendara. Pengendara yang tidak tertib dan polisi yang kurang tegas, kadang menghukum, kadang membiarkan para pelanggar, juga menjadi salah satu penyebab kemacetan.
Menyelesaikan masalah itu adalah tugas pemerintah. Namun, kita bisa mem bantu mengurangi masalah kemacetan ini dengan cara mengurangi memakai kendaraan pribadi dan menggunakan transportasi yang telah ada. Contohnya busway. Dengan menggunakan transportasi ini, tentunya kemacetan akan berkurang.
Coba Dihitung
Apa betul jumlah kendaraan di Jakarta adalah penyebab utama kemacetan? Coba kita buktikan.
Meburut Dinas Pekerjaan Umun (DPU) (data yang diambil pada tahun 2007), luas seluruh jalan di Jakarta adalah 40 km persegi. Luas kota Jakarta itu sendiri hanya 662 km persegi. Jadi seluruh jalan di Jakarta hanya 6 % dari seluruh luas kota Jakarta. Untuk menmbah luas jalan sudah tidak mungkin, karena penduduk Jakarta sudah banyak. Untuk mengurangi banyaknya penduduk tentu saja dengan mengadakan transmigrasi.
Sekrang, mari kita hitung. Pada tahun 2007, total kendaraan (instran dari BPS, Dinas PU, LTA) adalah 7.773.957 yang terdiri dari 5.136.619 sepeda motor, 1.816.702 mobil pribadi, 503.740 kendaraan bermotor lainnya dan 316.896 bus.
Banyaknya kendaraan setiap km persegi = 7.773.957 : 40= 194.348,9 = 194.349 buah
Jadi, hampir 200.000 kendaraan memadati jalan kota Jakarta. Angka yang menakjubkan bukan? Apakah jumlah kendaraan sebanyak itu tidak membuat macet kota Jakarta??
Helimousine, Untuk Orang Berkantong Tebal
Kegiatan kota Jakarta yang begitu padat membuat para pengusaha harus mengejar waktu. Jalanan kota Jakarta yang macet akan sangat menghambat kegiatan mereka. Ada salah satu cara untuk menempuh perjalan dengan cepat. salah satunya adalah dengan “Helimousien”. Transportasi udara ini hanya melayani penerbangan siang hari pada pukul 08:00 sampai18:00.
Namun transportasi udara ini hanya bisa dinikmati oleh kalangan atas saja karena biaya perjalanannya yang sangat mahal yaitu, biaya sewa per jam helimousine 1.500 dollar AS plus PPN. Kalaupun digunakan hanya 10 menit, biaya yang dikenakan tetap biaya satu jam. Biaya penerbangan untuk ke bandara, dikenakan biaya Rp 3 juta sekali jalan. Harga yang sangat mengejutkan memang, namun, transportasi ini berguna bagi kalangan eksekutif yang rata- rata memegang prinsip “waktu adalah uang”.
Jasa penerbangan sipil bersertifikat Civil Aviation Safety Regulations (CASR) yang telah diakui secara internasional ini juga menyediakan paket perjalanan wisata untuk melihat dari dekat keindahan Gunung Krakatau, Kepulauan Seribu, panorama Puncak dan Gunung Gede dengan tarif US$350-US$450 per orang.
Paket wisata lain yang cukup menarik adalah Batavia City Tour, yaitu penerbangan selama 30 menit dengan menyusuri di atas kawasan Monas, Bunderan HI, CBD Semanggi, Taman Mini Indonesia Indah, persimpangan Cawang, Ancol, Sunda Kelapa, Bandara Soekarno Hatta dan Karawaci dengan tarif US$135 per orang.
Busway Penyebabnya?
Sejak Oktober 2007, beberapa lajur khusus bus Transjakarta, atau yang biasa kita kenal busway, dibangun. Seiring pembangunan itu, kemacetan bukannya teratasi malah bertambah parah. Oleh karena itu, orang sering mengatakan bahwa pembangunan busway itu lah penyebab dari kemacetan.
Dari data yang saya ambil dari Dinas Perhubungan DKI Jakarta, setiap tahun jumlah kendaraan di Jakarta bertambah 9 %. Setiap harinya ada sekitar 1.235 motor dan 835 mobil baru yang masuk ke jalan. Mungkin saja angka itu bisa berubah lagi. Namun, jumlah penambahan kendaraan itu tidak seimbang dengan jumlah tambahan jalan raya yang hanya 0,1& setiap tahunnya. Tentu saja jalan yang sudah ada tidak dapat mengampung kendaraan yang begitu banyaknya. Itulah penyebab utama kenacetan yang terjadi di Jakarta.
Kemacetan bertambah karena pembangunan busway, penggalian kabel, pohon tumbang dan jalan yang berlubang. Jalan pun menjadi lebih sempit dan tentu membuat pengendara menjadi tidak nyaman saat berkendara. Pengendara yang tidak tertib dan polisi yang kurang tegas, kadang menghukum, kadang membiarkan para pelanggar, juga menjadi salah satu penyebab kemacetan.
Menyelesaikan masalah itu adalah tugas pemerintah. Namun, kita bisa mem bantu mengurangi masalah kemacetan ini dengan cara mengurangi memakai kendaraan pribadi dan menggunakan transportasi yang telah ada. Contohnya busway. Dengan menggunakan transportasi ini, tentunya kemacetan akan berkurang.
Coba Dihitung
Apa betul jumlah kendaraan di Jakarta adalah penyebab utama kemacetan? Coba kita buktikan.
Meburut Dinas Pekerjaan Umun (DPU) (data yang diambil pada tahun 2007), luas seluruh jalan di Jakarta adalah 40 km persegi. Luas kota Jakarta itu sendiri hanya 662 km persegi. Jadi seluruh jalan di Jakarta hanya 6 % dari seluruh luas kota Jakarta. Untuk menmbah luas jalan sudah tidak mungkin, karena penduduk Jakarta sudah banyak. Untuk mengurangi banyaknya penduduk tentu saja dengan mengadakan transmigrasi.
Sekrang, mari kita hitung. Pada tahun 2007, total kendaraan (instran dari BPS, Dinas PU, LTA) adalah 7.773.957 yang terdiri dari 5.136.619 sepeda motor, 1.816.702 mobil pribadi, 503.740 kendaraan bermotor lainnya dan 316.896 bus.
Banyaknya kendaraan setiap km persegi = 7.773.957 : 40= 194.348,9 = 194.349 buah
Jadi, hampir 200.000 kendaraan memadati jalan kota Jakarta. Angka yang menakjubkan bukan? Apakah jumlah kendaraan sebanyak itu tidak membuat macet kota Jakarta??
Helimousine, Untuk Orang Berkantong Tebal
Kegiatan kota Jakarta yang begitu padat membuat para pengusaha harus mengejar waktu. Jalanan kota Jakarta yang macet akan sangat menghambat kegiatan mereka. Ada salah satu cara untuk menempuh perjalan dengan cepat. salah satunya adalah dengan “Helimousien”. Transportasi udara ini hanya melayani penerbangan siang hari pada pukul 08:00 sampai18:00.
Namun transportasi udara ini hanya bisa dinikmati oleh kalangan atas saja karena biaya perjalanannya yang sangat mahal yaitu, biaya sewa per jam helimousine 1.500 dollar AS plus PPN. Kalaupun digunakan hanya 10 menit, biaya yang dikenakan tetap biaya satu jam. Biaya penerbangan untuk ke bandara, dikenakan biaya Rp 3 juta sekali jalan. Harga yang sangat mengejutkan memang, namun, transportasi ini berguna bagi kalangan eksekutif yang rata- rata memegang prinsip “waktu adalah uang”.
Jasa penerbangan sipil bersertifikat Civil Aviation Safety Regulations (CASR) yang telah diakui secara internasional ini juga menyediakan paket perjalanan wisata untuk melihat dari dekat keindahan Gunung Krakatau, Kepulauan Seribu, panorama Puncak dan Gunung Gede dengan tarif US$350-US$450 per orang.
Paket wisata lain yang cukup menarik adalah Batavia City Tour, yaitu penerbangan selama 30 menit dengan menyusuri di atas kawasan Monas, Bunderan HI, CBD Semanggi, Taman Mini Indonesia Indah, persimpangan Cawang, Ancol, Sunda Kelapa, Bandara Soekarno Hatta dan Karawaci dengan tarif US$135 per orang.
Sabtu, 01 Maret 2014
Sejarah Monitor
Monitor merupakan interface terpenting yang menghubungkan manusia dan
PC. Pada saat komputer pertama beroperasi pada tahun 1938, monitor
sudah berusia 83 tahun. Pengembangannya masih tetap berlangsung sampai
saat ini.
Tahap perkembangan monitor komputer yang digunakan saat ini sebenarnya terbagi dua fase. Fase pertama pada tahun 1855 ditandai dengan penemuan tabung sinar katoda oleh ilmuwan dari Jerman, Heinrich Geißler. Ia merupakan bapak dari monitor tabung. Lalu, 33 tahun kemudian, ahli kimia asal Austria, Friedrich Reinitzer, meletakkan dasar pengembangan teknologi LCD dengan menemukan kristal cairan. Teknologi tabung sejak awalnya memang dikembangkan untuk merealisasikan monitor. Namun, Kristal cairan masih menjadi fenomena kimiawi selama 80 tahun berikutnya. Saat itu, tampilan atau frame rate pun belum terpikirkan.
Selama ini, banyak yang menganggap bahwa Karl Ferdinand Braun sebagai penemu tabung sinar katoda. Sebenarnya, ia merupakan pembuat aplikasi pertama untuk tabung, yaitu osiloskop pada tahun 1897. Perangkat inilah yang menjadi basis pengembangan perangkat lain, seperti televisi atau layar radar. Pada tahun yang sama, Joseph John Thomson menemukan elektron, yang mempercepat pengembangan teknik tabung.
Monitor CRT pertama (Cathode Ray Tube) dikembangkan untuk menerima siaran televisi. Milestone-nya adalah tabung televisi pertama dari Wladimir Kosma Zworykin(1929), full electronic frame rate dari Manfred von Ardenne (1930), dan pengembangan tabung sinar katoda pertama yang dapat direproduksi oleh Allen B. Du Mont (1931).
Pada generasi awal komputer, belum menggunakan monitor khusus seperti sekarang ini. Komputer waktu itu terhubung dengan TV keluarga sebagai layar penampil dari pengolahan data yang dilakukannya. Yang cukup menjadi masalah adalah bahwa resolusi monitor TV saat itu hanya mampu menampilkan 40 karakter secara horisontal pada layar.
Monitor khusus untuk komputer dikeluarkan oleh IBM PC, yang pada awalnya memiliki resolusi 80 X 25 dengan kemampuan warna “green monochrome”. Monitor ini sudah mampu menampilkan hasil yang lebih terang, jelas dan lebih stabil.
Pada generasi berikutnya muncul mono graphics (MGA/MDA) yang memiliki 720×350. Selanjutnya di awal tahun 1980-an muncul jenis monitor CGA dengan range resolusi dari 160×200 sampai 640×200 dan kemampuan warna antara 2 sampai 16 warna. Monitor EGA muncul dengan resolusi yang lebih bagus yaitu 640×350. Monitor jenis ini cukup stabil sampai berikutnya munculnya generasi komputer Windows.
Semua jenis monitor ini menggunakan digital video – TTL signals dengan discrete number yang spesifik untuk mengatur warna dan intensitas cahaya. Antara video adapter dan monitor memiliki 2, 4, 16, atau 64 warna tergantung standard grafik yang dimiliki.
Selanjutnya dengan diperkenalkannya standard monitor VGA, tampilan grafis dari sebuah Personal Computer menjadi nyata. VGA dan generasi-generasi yang berhasil sesudahnya seperti PGA, XGA, atau SVGA merupakan standard analog video dengan sinyal R (Red), G (Green) dan B (Blue) dengan continuous voltage dan continuous range pada pewarnaan. Secara prinsip analog monitor memungkinkan penggunaan full color dengan intensitas yang tinggi.
Generasi monitor terbaru adalah teknologi LCD yang tidak lagi menggunakan tabung elektron CRT tetapi menggunakan sejenis kristal liquid yang dapat berpendar. Teknologi ini menghasilkan monitor yang dikenal dengan nama Flat Panel Display dengan layar berbentuk pipih, dan kemampuan resolusi yang tinggi.
Tahap perkembangan monitor komputer yang digunakan saat ini sebenarnya terbagi dua fase. Fase pertama pada tahun 1855 ditandai dengan penemuan tabung sinar katoda oleh ilmuwan dari Jerman, Heinrich Geißler. Ia merupakan bapak dari monitor tabung. Lalu, 33 tahun kemudian, ahli kimia asal Austria, Friedrich Reinitzer, meletakkan dasar pengembangan teknologi LCD dengan menemukan kristal cairan. Teknologi tabung sejak awalnya memang dikembangkan untuk merealisasikan monitor. Namun, Kristal cairan masih menjadi fenomena kimiawi selama 80 tahun berikutnya. Saat itu, tampilan atau frame rate pun belum terpikirkan.
Selama ini, banyak yang menganggap bahwa Karl Ferdinand Braun sebagai penemu tabung sinar katoda. Sebenarnya, ia merupakan pembuat aplikasi pertama untuk tabung, yaitu osiloskop pada tahun 1897. Perangkat inilah yang menjadi basis pengembangan perangkat lain, seperti televisi atau layar radar. Pada tahun yang sama, Joseph John Thomson menemukan elektron, yang mempercepat pengembangan teknik tabung.
Monitor CRT pertama (Cathode Ray Tube) dikembangkan untuk menerima siaran televisi. Milestone-nya adalah tabung televisi pertama dari Wladimir Kosma Zworykin(1929), full electronic frame rate dari Manfred von Ardenne (1930), dan pengembangan tabung sinar katoda pertama yang dapat direproduksi oleh Allen B. Du Mont (1931).
Pada generasi awal komputer, belum menggunakan monitor khusus seperti sekarang ini. Komputer waktu itu terhubung dengan TV keluarga sebagai layar penampil dari pengolahan data yang dilakukannya. Yang cukup menjadi masalah adalah bahwa resolusi monitor TV saat itu hanya mampu menampilkan 40 karakter secara horisontal pada layar.
Monitor khusus untuk komputer dikeluarkan oleh IBM PC, yang pada awalnya memiliki resolusi 80 X 25 dengan kemampuan warna “green monochrome”. Monitor ini sudah mampu menampilkan hasil yang lebih terang, jelas dan lebih stabil.
Pada generasi berikutnya muncul mono graphics (MGA/MDA) yang memiliki 720×350. Selanjutnya di awal tahun 1980-an muncul jenis monitor CGA dengan range resolusi dari 160×200 sampai 640×200 dan kemampuan warna antara 2 sampai 16 warna. Monitor EGA muncul dengan resolusi yang lebih bagus yaitu 640×350. Monitor jenis ini cukup stabil sampai berikutnya munculnya generasi komputer Windows.
Semua jenis monitor ini menggunakan digital video – TTL signals dengan discrete number yang spesifik untuk mengatur warna dan intensitas cahaya. Antara video adapter dan monitor memiliki 2, 4, 16, atau 64 warna tergantung standard grafik yang dimiliki.
Selanjutnya dengan diperkenalkannya standard monitor VGA, tampilan grafis dari sebuah Personal Computer menjadi nyata. VGA dan generasi-generasi yang berhasil sesudahnya seperti PGA, XGA, atau SVGA merupakan standard analog video dengan sinyal R (Red), G (Green) dan B (Blue) dengan continuous voltage dan continuous range pada pewarnaan. Secara prinsip analog monitor memungkinkan penggunaan full color dengan intensitas yang tinggi.
Generasi monitor terbaru adalah teknologi LCD yang tidak lagi menggunakan tabung elektron CRT tetapi menggunakan sejenis kristal liquid yang dapat berpendar. Teknologi ini menghasilkan monitor yang dikenal dengan nama Flat Panel Display dengan layar berbentuk pipih, dan kemampuan resolusi yang tinggi.
Langganan:
Postingan (Atom)